Skip to main content

Hukum Lambert-Beer: Prinsip, Aplikasi, dan Penyimpangan

Gambar ilustrasi Hukum Lambert-Beer menunjukkan cahaya melewati larutan dalam kuvet, dengan intensitas berkurang akibat absorpsi. Sebuah spektrofotometer terlihat di samping, serta grafik yang menggambarkan hubungan antara absorbansi dan konsentrasi

Hukum Lambert-Beer merupakan hukum dasar dalam spektroskopi yang menggambarkan hubungan antara penyerapan cahaya oleh suatu zat dengan konsentrasinya dalam larutan. Hukum ini sangat penting dalam berbagai bidang, termasuk kimia analitik, biokimia, farmasi, dan lingkungan.

Hukum ini dikembangkan oleh dua ilmuwan, Johann Heinrich Lambert yang menjelaskan bahwa intensitas cahaya berkurang secara eksponensial saat melewati medium penyerap, dan August Beer yang menambahkan bahwa penyerapan cahaya juga berbanding lurus dengan konsentrasi zat dalam medium tersebut.

Dasar Teori Hukum Lambert-Beer 

Hukum Lambert-Beer dinyatakan dengan persamaan :        

                              C =  A/(∈ x l )

Dimana:

A = Absorbansi (tanpa satuan)
  

= Koefisien absorptivitas molar (L mol⁻¹ cm⁻¹)

c = Konsentrasi larutan (mol L⁻¹)

l = Panjang jalur optik atau panjang lintasan cahaya dalam medium (cm)

Persamaan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan atau semakin panjang jalur optik, maka semakin besar pula absorbansi cahaya.

Prinsip Dasar Absorpsi Cahaya

 Dalam spektroskopi, absorpsi cahaya terjadi ketika molekul dalam larutan menyerap foton pada panjang gelombang tertentu, yang sesuai dengan perbedaan energi antar tingkat elektronik molekul tersebut.

Spektrum elektromagnetik terdiri dari berbagai panjang gelombang, dan hukum Lambert-Beer paling sering diterapkan dalam daerah ultraviolet (UV) dan tampak (Visible) untuk analisis zat kimia dalam larutan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hukum Lambert-Beer

Beberapa faktor yang mempengaruhi keakuratan penerapan hukum Lambert-Beer meliputi:

  • Konsentrasi larutan: Pada konsentrasi tinggi, interaksi antar molekul dapat menyebabkan penyimpangan.
  • Panjang jalur optik: Jalur optik yang lebih panjang meningkatkan absorbansi.
  • Koefisien absorptivitas molar: Nilai ini bergantung pada sifat kimia dan panjang gelombang cahaya yang digunakan.
  • Panjang gelombang cahaya: Harus dipilih panjang gelombang yang sesuai dengan spektrum absorpsi zat yang dianalisis.
  • Hamburan cahaya: Adanya partikel dalam larutan dapat menyebabkan penyimpangan absorbansi.

Aplikasi Hukum Lambert-Beer 

Hukum ini banyak digunakan dalam berbagai bidang, seperti:

  • Spektrofotometri UV-Vis: Digunakan untuk menentukan konsentrasi zat dalam larutan, misalnya dalam analisis farmasi dan biokimia.
  • Analisis lingkungan: Digunakan untuk mengukur tingkat polutan dalam air dan udara.
  • Industri makanan: Menentukan kadar zat warna dan komponen lain dalam produk makanan.
  • Bidang medis: Digunakan dalam analisis darah dan cairan tubuh lainnya.

Penyimpangan dari Hukum Lambert-Beer

 Meskipun hukum ini banyak digunakan, ada beberapa kondisi yang menyebabkan penyimpangan, antara lain:

  • Penyimpangan akibat konsentrasi tinggi: Pada konsentrasi tinggi, interaksi antar molekul menyebabkan deviasi dari linearitas.
  • Efek fluoresensi: Beberapa senyawa dapat memancarkan cahaya sendiri sehingga mempengaruhi hasil absorbansi.
  • Penyebaran cahaya: Adanya partikel koloid atau suspensi dalam larutan dapat menghamburkan cahaya.
  • Kesalahan instrumental: Spektrofotometer yang kurang terkalibrasi dapat memberikan hasil yang tidak akurat.

Metode Eksperimen dan Perhitungan

Untuk melakukan eksperimen hukum Lambert-Beer dengan spektrofotometri, langkah-langkah berikut dapat diikuti:

  • Menyiapkan larutan standar dengan konsentrasi berbeda.
  • Menggunakan spektrofotometer UV-Vis untuk mengukur absorbansi larutan pada panjang gelombang tertentu.
  • Membuat kurva kalibrasi absorbansi vs. konsentrasi.
  • Menggunakan persamaan Lambert-Beer untuk menentukan konsentrasi zat dalam sampel yang tidak diketahui.

Sebagai contoh perhitungan:

Jika suatu larutan memiliki absorbansi A = 0,8, koefisien absorptivitas molar = 15000 L mol⁻¹ cm⁻¹, dan panjang jalur optik l = 1 cm, maka konsentrasinya dihitung sebagai:

            C =  A/(∈ x l )  0,8 /15000.1  = 5,33 x 10-5 mol L-1

Hukum Lambert-Beer merupakan dasar penting dalam spektroskopi yang memungkinkan analisis kuantitatif zat dalam larutan berdasarkan absorbansi cahaya. Meskipun hukum ini sangat bermanfaat, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan penyimpangan, sehingga perlu perhatian terhadap kondisi eksperimen agar hasil yang diperoleh lebih akurat.

Penerapan hukum ini dalam berbagai bidang seperti farmasi, biokimia, dan lingkungan menjadikannya salah satu konsep fundamental dalam kimia analitik dan penelitian ilmiah. 

Comments